Box Layout

HTML Layout
Backgroud Images
Backgroud Pattern
blog-img-10

Posted by : official

Duduk Melingkar, Membaca Perlahan: Cerita dari Kelas Yanbu'a SDIT Nurul Qolbi

Bekasi — Humas Nurul Qolbi. Pagi itu, 21 Juli, lantai keramik salah satu ruang di SDIT Nurul Qolbi terasa lebih ramai dari biasanya. Bukan karena ada acara besar, bukan pula karena ada tamu istimewa. Hanya kegiatan biasa yang sudah berjalan bertahun-tahun, yang mungkin bagi orang luar terlihat sederhana: anak-anak duduk melingkar, membuka buku kecil bersampul warna-warni, lalu mulai membaca huruf demi huruf dengan suara pelan.

Namanya Yanbu'a. Bagi keluarga besar SDIT Nurul Qolbi, nama ini sudah tidak asing lagi. Setiap hari, tanpa terkecuali, kegiatan ini selalu ada dalam jadwal anak-anak. Rutin, kata gurunya. Bukan sesekali, bukan pula ketika ada momen tertentu saja.

Di salah satu sudut, tampak sekumpulan anak laki-laki mengenakan peci hitam dan seragamkotak-kotak merah, duduk bersila membentuk lingkaran kecil. Beberapa dari mereka menunduk, memegang kedua tangan di depan wajah — entah sedang berdoa, entah sedang menghafal, atau mungkin keduanya. Seorang guru duduk di tengah, menyimak satu per satu bacaan yang keluar dari mulut mungil murid-muridnya.

Tidak ada yang terburu-buru di sana. Setiap anak menunggu giliran dengan sabar, sesekali berbisik pada teman di sebelahnya, sesekali diam memperhatikan gurunya membetulkan cara membaca temannya yang lain. Ada yang lancar, ada pula yang masih tersendat di beberapa huruf. Tapi tidak ada yang dipermalukan karena itu. Semua berjalan apa adanya, sewajarnya anak-anak belajar.

Di sisi lain ruangan, pemandangan yang tak kalah menyentuh terlihat dari dua siswi kecil berkerudung putih dengan ikat kepala kotak-kotak merah khas mereka. Keduanya duduk berdekatan, kepala saling merapat, mata tertuju pada satu buku yang sama — buku Yanbu'a jilid lanjutan yang halamannya sudah dipenuhi warna-warni penanda bacaan tajwid.

Salah satu dari mereka menunjuk sebuah baris dengan jarinya, seolah sedang menjelaskan sesuatu pada temannya. Yang satu lagi memperhatikan dengan saksama, dahinya sedikit berkerut, seperti sedang berusaha keras memahami bunyi huruf yang baru saja dibaca. Momen kecil semacam ini barangkali tidak akan pernah masuk ke buku catatan resmi sekolah. Tapi justru di situlah, dalam kepolosan dua anak yang saling membantu membaca huruf hijaiyah, terasa sesuatu yang jauh lebih berarti daripada sekadar target kurikulum.

Ketika kamera menyorot lebih luas, terlihat betapa banyaknya anak yang mengikuti kegiatan ini dalam satu waktu. Puluhan siswi berkerudung putih duduk berjajar rapi, sebagian menunduk membaca, sebagian lagi menunggu giliran dengan tenang. Dari kejauhan, barisan kerudung putih yang berpadu dengan ikatan kepala merah kotak-kotak itu terlihat seperti hamparan kain yang berbaris teratur, dihiasi kepala-kepala kecil yang serius menekuni bacaannya masing-masing.

Suasana ramai tapi tidak berisik. Yang terdengar hanyalah gumaman lirih puluhan anak yang mengeja huruf demi huruf, kadang serempak, kadang bergantian. Sesuatu yang mungkin terdengar biasa saja bagi telinga orang dewasa, tapi bagi anak-anak itu, setiap huruf yang berhasil mereka baca dengan benar adalah kemenangan kecil yang layak dirayakan.

Kenapa Harus Yanbu'a?

Yanbu'a sendiri adalah metode belajar membaca Al-Qur'an yang disusun bertahap, dari mengenal huruf hijaiyah satu per satu, sampai akhirnya bisa membaca dengan tajwid yang benar. Metodenya dibuat berjilid, jadi setiap anak berjalan sesuai kemampuannya sendiri. Ada yang masih di jilid awal, ada pula yang sudah jauh melangkah ke jilid-jilid akhir. Tidak ada paksaan untuk menyamakan kecepatan semua anak, karena memang setiap anak punya waktunya sendiri untuk berkembang.

Di SDIT Nurul Qolbi, metode ini dipilih bukan tanpa alasan. Sekolah ini ingin anak-anak tumbuh dengan Al-Qur'an bukan sebagai beban pelajaran, melainkan sebagai teman dekat yang menemani keseharian mereka. Karena itu, Yanbu'a diajarkan setiap hari, sedikit demi sedikit, supaya anak-anak terbiasa dan tidak merasa terpaksa.

Yang menarik dari kegiatan ini, para guru tidak berdiri menjulang di depan kelas seperti biasanya mengajar mata pelajaran umum. Mereka justru ikut duduk di lantai, sejajar dengan murid-muridnya, kadang bersimpuh, kadang bersila, menyesuaikan diri dengan posisi anak-anak yang mereka bimbing. Cara duduk yang sederhana ini entah kenapa terasa punya makna tersendiri — seolah ingin mengatakan bahwa belajar mengaji bukan soal siapa yang lebih tinggi kedudukannya, tapi soal kedekatan hati antara guru dan murid.

Setiap anak dibimbing satu per satu. Kalau ada yang salah menyebut huruf, gurunya akan mengulang dengan sabar, kadang sampai berkali-kali, tanpa terdengar nada kesal sedikit pun. Barangkali karena semua guru di sana sudah paham, membentuk lisan anak-anak agar fasih membaca Al-Qur'an memang butuh waktu, tidak bisa instan.

Ada satu hal yang menarik dari kegiatan Yanbu'a ini: sifatnya yang rutin. Bukan kegiatan yang hanya muncul sesekali lalu dilupakan, tapi benar-benar menjadi bagian dari keseharian sekolah. Setiap pagi, tanpa perlu diumumkan besar-besaran, anak-anak sudah tahu bahwa waktunya membuka buku Yanbu'a telah tiba.

Kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang seperti ini seringkali punya dampak yang jauh lebih besar dibanding kegiatan yang meriah tapi hanya sekali dilakukan. Sedikit demi sedikit, huruf yang tadinya asing menjadi akrab. Bacaan yang tadinya terbata-bata perlahan menjadi lancar. Dan yang paling penting, kedekatan anak-anak dengan Al-Qur'an pun tumbuh secara alami, tanpa terasa dipaksakan.

Kalau ditanya, apa sebenarnya tujuan akhir dari kegiatan ini, jawabannya mungkin lebih dari sekadar "supaya anak bisa membaca Al-Qur'an." Ada harapan yang lebih dalam di baliknya. Sekolah ingin anak-anak ini kelak tumbuh menjadi pribadi yang dekat dengan Al-Qur'an, bukan hanya bisa melafalkannya, tapi juga mencintainya dari hati.

Momen-momen kecil seperti dua anak yang saling menunjuk huruf di buku yang sama, atau anak laki-laki yang menunduk khusyuk sambil menunggu gilirannya membaca, sebenarnya adalah bukti bahwa proses itu sedang berjalan, meski pelan-pelan dan tidak terlihat mencolok. Justru di situlah letak keindahannya. Sesuatu yang ditanam sejak kecil, dengan sabar dan konsisten, biasanya akan tumbuh jauh lebih kuat dibanding sesuatu yang dipaksakan dalam waktu singkat.

Ketika waktu belajar Yanbu'a selesai, anak-anak kembali menutup buku mereka satu per satu, sebagian merapikan letak kertas pembatas halaman, sebagian lagi masih berbisik dengan teman di sampingnya, mengulang huruf yang baru saja mereka pelajari. Ruangan yang tadinya ramai oleh gumaman bacaan perlahan mulai sepi kembali.

Tidak ada yang istimewa dari luar. Hanya anak-anak yang duduk membaca, seperti biasa, seperti kemarin, dan mungkin seperti besok. Tapi justru dari kebiasaan sederhana dan berulang inilah, generasi yang dekat dengan Al-Qur'an sedang perlahan-lahan dibentuk di SDIT Nurul Qolbi. Bukan lewat acara besar yang megah, melainkan lewat lingkaran-lingkaran kecil di lantai kelas, setiap pagi, tanpa henti.


Diliput oleh Humas Nurul Qolbi. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi +62 857-7000-2220 atau melalui Instagram @humas_nurulqolbi.